Celoteh Siansor : Paguyuban yang Hidup




Siansor

30detik.com -- Di Desa Sukamaju Sukamundur, terbentuk sebuah Paguyuban Warga yang pernah jadi kebanggaan. Dibentuk beberapa tahun lalu untuk memajukan daerah, tapi kini hanya bayang-bayang. Mereka ramai saat ada masalah besar, seperti banjir tahun lalu—semua datang bantu angkut lumpur, tapi besoknya lenyap. 

Pesta rakyat? Wah, panggung penuh! Mereka tampil senam, joget, dan bagi doorprize, tapi rutinitas harian? Nol besar. Rapat bulanan sepi, usul bikin itu buat itu tak ada terealisasi, anak dibiarkan menguap, dan bantuan untuk warga miskin hanya kalau "orang penting" yang minta.

Siansor geleng-geleng kepala. "Buat apa paguyuban kalau cuma jalan di tempat? Kita butuh yang hidup setiap saat, tanpa pandang bulu. Bukan cuma tampil di pesta atau saat darurat, tapi bantu tetangga sakit, tanam pohon bareng, atau ajar anak belajar domino di poskamling  Tanpa lihat anak siapa, pendukung pilkades mana, atau status sosialnya.

"Suatu malam, di warung kopi, Siansor kumpulkan lima pemuda inti. "Kita reformasi! Mulai besok, jadwal tetap: Senin bersih sungai, Rabu kelas keterampilan gratis, Jumat gotong royong rumah ibadah dan malamnya kita latihan domino lagi, Semua warga boleh ikut, dari tukang ojek sampai pegawai kantor. Tidak ada prioritas buat 'orang dalam'."Awalnya sulit. Beberapa anggota lama protes, "Kenapa repot setiap hari? Tunggu pesta aja!" Tapi Siansor tegas. Mereka mulai kecil: Kita bantu Indo Sitti, janda miskin tapi montok, yang bukan "pendukung" siapa-siapa, perbaiki atap rumahnya. Lalu, ajak anak belajar domino, dia hanya remaja nakal tapi bukan anak pejabat.

Pada akhirnya warga paguyuban tersenyum bangga. "Ini dia paguyuban sejati: aktif setiap saat, menyatukan semua tanpa pandang bulu."Kini, Sukamaju Sukamundur jadi contoh. Paguyuban bukan lagi sekadar nama—ia hidup, bernapas, dan menggerakkan daerah menuju maju.(Ansor)




0/Post a Comment/Comments