TARAKAN, 30Detik.com – Raut kebahagiaan dan kelegaan yang mendalam tampak jelas memancar dari wajah Wali Kota Tarakan, dr.H.Khairul, M.Kes., saat kembali menginjakkan kaki di Bumi Paguntaka. Bersama rombongan jemaah haji lainnya, orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota Tarakan ini baru saja menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji selama kurang lebih 40 hari di Tanah Suci, Mekkah dan Madinah.
Didampingi istri tercinta, Hj.Sitti Rujiah, S.Keb.Bdn., ia disambut hangat oleh keluarga serta jajaran pejabat pemerintahan setempat. Kembali dari perjalanan spiritual tersebut, Khairul langsung mengungkapkan rasa syukur yang tidak terhingga atas kelancaran ibadah yang telah dilaluinya.
“Alhamdulillah, rasanya sangat lega dan penuh rasa syukur. Selama kurang lebih 40 hari di sana, saya memosisikan diri dan ikut sepenuhnya sebagai jemaah biasa. Menikmati seluruh fasilitas dan proses yang disediakan bersama-sama dengan jemaah yang lain,” ujar Khairul dengan nada santun saat ditemui awak media di Tarakan.
Khairul menegaskan bahwa selama berada di Arab Saudi, dirinya sama sekali tidak mendapatkan ataupun meminta perlakuan istimewa (VVIP), meskipun status sosialnya di daerah merupakan seorang kepala daerah aktif. Menurutnya, di hadapan Sang Pencipta, baik di Mekkah maupun Madinah, seluruh umat manusia memiliki kedudukan yang setara tanpa ada sekat perbedaan jabatan atau status sosial apa pun.
Prinsip kesetaraan itu ia buktikan dengan menjalani seluruh rangkaian ritual ibadah haji persis sama seperti yang dirasakan oleh jutaan jemaah reguler lainnya dari seluruh belahan dunia. Tidak ada hotel mewah tersendiri atau pelayan khusus yang mendampinginya.
Selama fase puncak haji maupun masa tunggu, Khairul melewati hari-harinya dengan tidur sekamar bersama beberapa jemaah asal Indonesia lainnya. Ia juga melakoni aktivitas harian secara mandiri, mulai dari mengantre fasilitas umum, mencuci pakaiannya sendiri secara manual, hingga berjalan kaki berkilo-kilometer di bawah terik matahari demi menuju Masjidil Haram untuk menunaikan salat berjamaah.
“Di sana semua sama. Kita melepas semua atribut duniawi. Pengalaman mengurus kebutuhan sendiri dan berbaur tanpa pembatas dengan masyarakat dari berbagai latar belakang justru membuat esensi ibadah haji ini menjadi sangat menyentuh dan bermakna bagi saya pribadi,” imbuhnya.
Selain pengalaman pribadi dalam hal kemandirian, Khairul mengaku sangat terkesan dengan atmosfer sosial yang terbangun di antara para pencari rida Tuhan tersebut. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana semangat gotong royong dan kepedulian antarsesama tumbuh begitu kuat dan masif di tengah padatnya situasi rukun haji.
Sikap saling bantu tersebut paling terlihat ketika para jemaah bahu-bahu mengawal dan memprioritaskan para jemaah lanjut usia (lansia) agar tetap bisa menjalani ibadah dengan aman dan nyaman. Jemaah yang muda tanpa pamrih membantu mendorong kursi roda, membagikan air, hingga memapah jemaah lain yang kelelahan fisik.
Bagi Wali Kota Tarakan ini, pemandangan humanis tersebut menjadi sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga. Ia berharap nilai-nilai solidaritas, kesabaran, dan gotong royong tanpa memandang kasta yang didapatkannya dari Tanah Suci dapat diimplementasikan kembali dalam kehidupan bermasyarakat dan birokrasi di Kota Tarakan.
“Semangat kebersamaan dan ketulusan dalam membantu sesama, terutama mereka yang lemah, adalah oleh-oleh spiritual terbaik yang saya bawa pulang. Semoga nilai-nilai baik ini bisa terus kita rawat dan tularkan untuk membangun Tarakan yang lebih harmonis,” pungkas Khairul menutup ceritanya.(*)

Posting Komentar